Peta kekuatan industri asuransi dunia diprediksi akan mengalami pergeseran signifikan dalam sepuluh tahun ke depan. Riset terbaru dari Allianz menempatkan Asia sebagai motor penggerak utama dalam bisnis asuransi jiwa, sekaligus menantang hegemoni Amerika Utara yang telah menjadi episentrum industri selama beberapa dekade terakhir.
Hingga tahun 2036, total premi asuransi global diperkirakan akan melonjak hingga EUR12,13 triliun. Dari total tambahan premi asuransi jiwa yang diproyeksikan sebesar EUR1,99 triliun, kawasan Asia diprediksi akan berkontribusi lebih dari setengahnya, yakni mencapai EUR1 triliun. Angka ini secara telak melampaui gabungan perolehan premi dari pasar Amerika Utara dan Eropa Barat.
Lonjakan di Asia dipicu oleh perubahan demografi yang mendesak kebutuhan akan dana pensiun, serta masih terbukanya celah dalam sistem pensiun publik di banyak negara. Tiongkok, sebagai salah satu pasar terbesar, bahkan mencatatkan pertumbuhan pesat yang menjadi sinyal kuat kebangkitan kawasan ini dalam menyerap produk proteksi jangka panjang.
Di sisi lain, Amerika Utara diproyeksikan tetap mempertahankan dominasi pada lini asuransi umum. Kompleksitas risiko aset, kebutuhan perlindungan terhadap bencana alam, hingga inflasi biaya klaim menjadi faktor pendorong utama yang membuat pasar asuransi umum di kawasan tersebut tetap solid dan tangguh.
Laporan Allianz juga menyoroti bagaimana fragmentasi geopolitik memaksa pelaku industri asuransi untuk beradaptasi. Prinsip efisiensi kini mulai bergeser ke arah ketahanan ekonomi, di mana perusahaan asuransi memegang peran vital sebagai penopang investasi dan kepercayaan publik di tengah ketidakpastian rantai pasok global.
Indonesia sendiri dipandang sebagai pasar dengan potensi pertumbuhan yang menjanjikan. Dengan tingkat penetrasi yang masih relatif rendah di angka 1,3 persen dari PDB, pasar asuransi tanah air diproyeksikan mampu tumbuh rata-rata 8,2 persen per tahun hingga 2036. Hal ini memberikan ruang luas bagi industri untuk memperluas inklusi proteksi bagi masyarakat, terutama dalam sektor kesehatan yang biaya layanannya terus meningkat secara signifikan.