Harga emas dunia mencatatkan kenaikan tajam lebih dari 2% pada penutupan perdagangan Kamis (2/7/2026). Reli harga ini dipicu oleh rilis data tenaga kerja Amerika Serikat yang berada di bawah proyeksi pasar, sehingga memperkuat spekulasi bahwa bank sentral AS, The Fed, kemungkinan akan menahan laju kenaikan suku bunga acuan mereka.

Data pasar mencatat harga emas spot ditutup menguat 2,3% menjadi US$ 4.123,96 per ons troi, sementara kontrak emas berjangka AS ikut terkerek naik 1,3% ke posisi US$ 4.135,65 per ons troi. Penguatan logam mulia ini turut didorong oleh pelemahan indeks dolar AS sebesar 0,5%, yang membuat harga emas menjadi lebih terjangkau bagi para investor pemegang mata uang asing.

Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, menjelaskan bahwa data ekonomi yang lesu memberikan sentimen positif bagi pasar emas. Menurutnya, kondisi ketenagakerjaan yang melambat menjadi sinyal kuat bahwa kebijakan moneter ketat kemungkinan tidak akan diperluas, mengingat emas secara historis cenderung berkinerja lebih baik dalam lingkungan suku bunga rendah.

Berdasarkan laporan Departemen Tenaga Kerja AS, ekonomi Negeri Paman Sam hanya mampu menyerap 57.000 lapangan kerja baru pada Juni. Angka tersebut terpaut jauh dari ekspektasi analis yang mematok target di kisaran 110.000 posisi. Selain itu, tingkat pengangguran saat ini bertengger di angka 4,2%, menambah bukti nyata adanya perlambatan di sektor tenaga kerja setelah laporan payroll sektor swasta sehari sebelumnya memberikan sinyal serupa.