Harga emas dunia mengalami lonjakan signifikan setelah rilis data non-farm payrolls Amerika Serikat yang menunjukkan performa di bawah ekspektasi pasar. Kondisi ketenagakerjaan yang melambat ini memicu optimisme investor bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menahan kebijakan kenaikan suku bunga pada sisa tahun ini, sebuah sentimen yang secara historis menguntungkan aset logam mulia.
Berdasarkan data Refinitiv, harga emas pada penutupan perdagangan Kamis (2/7/2026) menyentuh angka US$ 4.122,80 per troy ons. Angka ini mencatatkan kenaikan impresif sebesar 2,3% dalam kurun waktu 24 jam terakhir, sekaligus menjadi posisi tertinggi sejak 22 Juni 2026. Tren positif ini turut didorong oleh pelemahan indeks dolar AS sebesar 0,5% yang membuat komoditas berbasis dolar tersebut menjadi lebih kompetitif bagi pemegang mata uang lain.
Laporan Departemen Tenaga Kerja AS mengungkap bahwa ekonomi hanya mampu menambah 57.000 lapangan kerja selama Juni, jauh di bawah proyeksi awal sebesar 110.000 lapangan kerja. Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, menyebutkan bahwa angka tersebut menjadi indikator kunci bagi pelaku pasar untuk mengubah ekspektasi kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat ke depan.
Selain faktor ekonomi, penguatan emas juga ditopang oleh aksi borong bank sentral global yang menambah cadangan emas mereka sebesar 41 ton pada bulan Mei, menurut laporan World Gold Council. Faktor ketegangan geopolitik yang masih berlangsung serta perannya sebagai instrumen safe haven di tengah volatilitas pasar saham, semakin memperkokoh posisi emas sebagai pilihan investasi utama bagi banyak investor saat ini.
Meski analis dari Saxo Bank mengingatkan bahwa harga emas saat ini berada di wilayah jenuh beli (overbought) yang berpotensi memicu konsolidasi, tren jangka panjang tetap terlihat menjanjikan. Dengan dukungan dari pelemahan dolar dan menurunnya imbal hasil obligasi, pasar emas diprediksi masih memiliki ruang untuk terus bergerak menguat di masa mendatang.