Kanselir Jerman, Friedrich Merz, mendapati dirinya berada dalam pusaran kritik publik setelah mengunggah pesan apresiasi bagi tim nasional Jerman sesaat setelah tersingkir dari Piala Dunia. Dalam unggahannya di platform X, Merz memuji dedikasi dan semangat skuad timnas yang dinilai menginspirasi negara, meski kenyataan di lapangan berbanding terbalik dengan performa mengecewakan yang ditampilkan para pemain.
Reaksi keras datang dari berbagai pihak, mulai dari netizen yang mempertanyakan objektifitas sang pemimpin, hingga sindiran tajam dari tokoh politik seperti anggota Parlemen Eropa, Marie-Agnes Strack-Zimmermann. Bahkan, komentar sinis juga datang dari kalangan internasional, termasuk Kirill Dmitriev, yang menyebut narasi Merz sebagai bentuk perayaan atas kegagalan yang terus berulang.
Menanggapi kehebohan tersebut, Kantor Kanselir Jerman memberikan klarifikasi bahwa unggahan itu merupakan hasil kesalahan teknis koordinasi staf media sosial. Laporan dari media lokal di Berlin menyebutkan bahwa terdapat draf pesan yang telah disiapkan sebelumnya untuk berbagai kemungkinan hasil akhir pertandingan, namun staf terkait secara tidak sengaja mempublikasikan draf yang tidak tepat.
Surat kabar nasional, Bild, menyoroti insiden ini dengan tajuk yang cukup keras, menyamakan langkah tersebut dengan tindakan "gol bunuh diri" yang mempermalukan pemerintahan. Meski Wakil Juru Bicara Pemerintah, Sebastian Hille, menegaskan bahwa Merz tetap mendukung timnas sepenuh hati, insiden ini terlanjur memperburuk sentimen publik yang memang tengah berada di titik nadir.
Kontroversi ini muncul di tengah catatan sejarah rendahnya tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Merz, di mana survei ARD-Deutschlandtrend menunjukkan ketidakpuasan mencapai 87 persen. Berbagai tantangan domestik, mulai dari perlambatan ekonomi hingga persoalan infrastruktur, membuat kesalahan kecil dalam komunikasi politik ini berpotensi memicu reaksi berantai yang lebih luas terhadap kredibilitas sang kanselir.