PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) secara resmi telah merampungkan agenda transformasi sistem teknologi informasi (IT) yang komprehensif. Langkah strategis ini menjadi fondasi utama bagi perseroan dalam mempercepat laju bisnis sekaligus meningkatkan kualitas layanan digital bagi jutaan nasabahnya di seluruh Indonesia.

Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, menegaskan bahwa pembaruan sistem ini merupakan respons terhadap dinamika industri keuangan yang terus terdigitalisasi. Dengan posisi BSI yang kini masuk dalam jajaran lima bank besar di tanah air, perseroan berkomitmen menghadirkan layanan yang setara dengan bank-bank besar lainnya guna memenuhi ekspektasi nasabah yang kian tinggi.

Proses migrasi teknologi yang melibatkan sekitar 1.500 tenaga ahli ini berhasil meningkatkan efisiensi operasional hingga 80 persen. Proyek berskala besar tersebut mencakup pembaruan core banking dari R10 ke R24 yang dilakukan secara bertahap dengan pengawasan ketat dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta dukungan supervisi strategis dari Danantara.

Pembaruan infrastruktur ini terbukti memberikan dampak positif, di mana kapasitas sistem kini jauh lebih fleksibel untuk mendukung inovasi produk melalui aplikasi BYOND bagi nasabah ritel dan BEWIZE bagi nasabah institusi. Saat ini, tingkat ketersediaan (availability) seluruh kanal digital BSI tercatat mencapai 99,99 persen, menjamin kelancaran transaksi nasabah kapan saja dan di mana saja.

Di samping kemajuan teknologi, BSI juga mencatat kinerja keuangan yang impresif. Hingga Mei 2026, perseroan membukukan laba bersih unaudited sebesar Rp3,39 triliun atau tumbuh 16,73 persen secara tahunan (YoY). Dengan total aset yang mencapai Rp444 triliun dan basis nasabah yang kini melampaui 24 juta orang, BSI kian optimistis dalam memperkuat perannya sebagai motor penggerak ekonomi syariah yang inklusif dan kompetitif di kancah global.