Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar, menegaskan pentingnya membangun jaringan laboratorium yang terintegrasi secara global. Langkah strategis ini dinilai krusial untuk menghadapi ancaman kesehatan kontemporer, terutama dampak berbahaya dari kontaminasi mikroplastik dan nanoplastik pada tubuh manusia.
Dalam forum bertajuk 'The Laboratory Future: Sustainability in Innovation and Operations' di Jakarta, Taruna menyoroti kaitan antara penggunaan plastik yang masif dengan risiko kesehatan yang serius. Merujuk pada riset dalam The New England Journal of Medicine, paparan mikroplastik berpotensi memicu aterosklerosis, yakni penyempitan pembuluh darah arteri akibat tumpukan plak. Partikel mikroskopis ini diduga mampu menyusup ke dalam sistem vaskular dan mencederai endotel, yang pada akhirnya meningkatkan risiko penyakit iskemik hingga stroke.
Selain ancaman lingkungan, integrasi laboratorium berkualitas tinggi menjadi garda terdepan dalam memberantas peredaran obat ilegal dan zat narkotika. Taruna menekankan bahwa Indonesia membutuhkan fasilitas pengujian yang mumpuni serta parameter keamanan yang spesifik agar deteksi dini terhadap produk berbahaya dapat dilakukan dengan lebih cepat dan akurat.
Sebagai bentuk komitmen nyata dalam perlindungan publik, BPOM kini aktif menjalin kerja sama dengan berbagai mitra internasional, termasuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Asian Development Bank (ADB). Sinergi ini difokuskan pada peningkatan infrastruktur laboratorium di Indonesia agar mampu beradaptasi dengan standar global serta menjawab tantangan kesehatan masa depan secara efektif.