Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan klarifikasi terkait kekhawatiran masyarakat mengenai cuaca terik yang belakangan ini dirasakan di berbagai wilayah Indonesia. Kondisi panas tersebut kerap disandingkan dengan fenomena gelombang panas (heatwave) ekstrem yang tengah melanda Eropa dan memicu lonjakan suhu mematikan di benua tersebut.
Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, menegaskan bahwa apa yang terjadi di Indonesia merupakan cuaca panas musiman yang lazim terjadi, terutama saat memasuki periode kemarau dengan kondisi langit cerah. Menurutnya, karakteristik atmosfer tropis di Indonesia cenderung tidak stabil dan cepat berubah, sehingga fenomena gelombang panas yang sifatnya menetap dan ekstrem sangat jarang terjadi.
Senada dengan hal tersebut, Plh Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani, menjelaskan bahwa faktor utama perbedaan ini terletak pada letak geografis. Indonesia yang berada di wilayah ekuatorial memiliki dinamika atmosfer yang sangat berbeda dengan wilayah lintang menengah-tinggi seperti Eropa, Asia Tengah, atau Amerika.
Di wilayah lintang tinggi, gelombang panas biasanya dipicu oleh sistem tekanan udara tinggi yang menetap dalam durasi lama. Sebaliknya, wilayah Indonesia memiliki variabilitas cuaca yang dinamis, yang secara teknis membatasi kemungkinan terbentuknya kondisi udara panas yang stabil dan stagnan seperti yang dikategorikan sebagai gelombang panas secara meteorologis.