PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) tengah menjalani fase transformasi bisnis yang signifikan. Perusahaan yang selama ini dikenal sebagai raksasa penyedia menara telekomunikasi tersebut kini mulai mengalihkan fokus pendapatan ke segmen non-menara, termasuk layanan konektivitas dan infrastruktur Fiber-to-the-Tower (FTTT).
Pergeseran ini terbukti efektif dalam menjaga stabilitas keuangan perusahaan pada kuartal pertama tahun 2026. Meski pendapatan dari lini bisnis menara mengalami kontraksi sebesar 4,1% secara tahunan (yoy) menjadi Rp2,1 triliun akibat konsolidasi operator telekomunikasi, kinerja operasional secara keseluruhan tetap tumbuh positif. Pertumbuhan signifikan pada segmen non-menara tercatat mampu menjadi bantalan yang meredam penurunan tersebut.
Data menunjukkan lonjakan pesat pada pendapatan konektivitas yang tumbuh 44,4% yoy menjadi Rp502 miliar. Begitu pula dengan segmen FTTT dan pos pendapatan lainnya yang menunjukkan performa impresif. Secara total, kontribusi segmen non-menara kini telah mencapai 42% dari total pendapatan perusahaan, meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya berada di kisaran 33%.
Di balik perubahan struktur bisnis ini, TOWR juga memperluas jangkauan infrastrukturnya secara masif. Saat ini, perusahaan mengelola aset serat optik sepanjang 237.837 km dengan pertumbuhan pendapatan mencapai 8,7% yoy. Ekspansi di sektor Fiber-to-the-Home (FTTH) juga menunjukkan kemajuan signifikan dengan penetrasi sambungan rumah yang meningkat 58,6% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Melihat prospek masa depan, TOWR berencana melakukan ekspansi strategis ke sektor pusat data (data center) dan energi terbarukan. Keputusan ini telah mendapatkan restu dari para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Mei 2026. Melalui anak usahanya, Protelindo dan iForte, TOWR akan mengintegrasikan pusat data dengan beban IT mencapai 10 MW serta implementasi pembangkit listrik tenaga surya di berbagai titik menara.
Meski prospek bisnis dinilai cukup menjanjikan, analis mengingatkan adanya beberapa risiko yang perlu diwaspadai, termasuk sensitivitas terhadap suku bunga BI mengingat porsi utang perusahaan dengan bunga mengambang masih cukup tinggi, serta ketatnya persaingan harga sewa menara. Namun demikian, reorientasi TOWR menjadi platform infrastruktur digital terintegrasi tetap menjadi katalis positif bagi valuasi perusahaan ke depan.