Paradigma ekonomi global tengah mengalami pergeseran signifikan menuju model pembangunan berbasis pengetahuan. Dalam lanskap bisnis saat ini, aset tak berwujud—seperti kekayaan intelektual, data, teknologi, dan inovasi—telah menggantikan posisi mesin dan modal fisik sebagai penggerak utama nilai serta daya saing perusahaan. Proyeksi menunjukkan bahwa pada tahun 2025, lebih dari 92% nilai perusahaan dalam indeks S&P 500 akan berasal dari aset-aset yang tidak terlihat secara fisik ini.

Namun, banyak pelaku usaha, khususnya di Vietnam, masih terjebak pada penilaian tradisional yang berfokus pada aset berwujud seperti kas dan persediaan. Dr. Nguyen Trung Kien dari Institut Strategi Teknologi dan Inovasi (STI) menyebut fenomena ini sebagai "tambang emas yang terlupakan." Akibatnya, perusahaan kesulitan menunjukkan nilai intrinsik mereka saat berhadapan dengan investor atau dalam proses merger dan akuisisi karena aset strategis seperti budaya perusahaan dan data pelanggan belum terkuantifikasi dengan baik.

Dari perspektif investasi, Dr. David Nguyen, Ketua Asosiasi Bisnis Vietnam di Singapura, menekankan bahwa nilai sebuah perusahaan merupakan akumulasi dari performa masa lalu, posisi masa kini, dan potensi masa depan. Investor modern tidak hanya membeli profitabilitas hari ini, tetapi juga potensi skalabilitas di masa depan. Perusahaan rintisan, misalnya, sering mendapatkan valuasi tinggi bukan karena laba saat ini, melainkan karena teknologi inti dan model bisnis yang mampu berekspansi dengan biaya rendah.

Untuk mengoptimalkan keunggulan kompetitif, bisnis perlu melakukan perubahan fundamental dalam manajemen aset. Langkah ini dimulai dengan mengidentifikasi dan menginventarisasi secara komprehensif aset tak berwujud yang mereka miliki. Selain itu, aspek perlindungan hukum atas kekayaan intelektual menjadi krusial agar nilai bisnis tidak rentan terhadap risiko saat dilakukan uji tuntas (due diligence) oleh pihak investor.

Sejalan dengan pandangan tersebut, Dr. Pham Trung Thanh, Ketua Dewan Direksi Vision Viet Holding, menambahkan bahwa reputasi merek, kapasitas manajemen, dan jejaring ekosistem merupakan modal jangka panjang yang sangat bernilai. Bagi perusahaan, investasi pada aset tak berwujud bukanlah proses instan, melainkan akumulasi strategis yang memungkinkan mereka untuk terhubung ke dalam rantai nilai global dan menarik kepercayaan mitra internasional yang lebih luas.