Pemerintah Vietnam kini memandang sektor energi bukan sekadar pendukung, melainkan infrastruktur fundamental bagi seluruh aspirasi teknologi nasional. Pandangan ini diperkuat oleh Profesor Nguyen Quoc Sy, Rektor Institut Teknologi VinIT, yang menegaskan bahwa industrialisasi dan modernisasi negara sangat bergantung pada stabilitas pasokan listrik sebagai tulang punggung ekonomi digital.

Strategi besar ini telah dilembagakan melalui berbagai regulasi strategis, termasuk Resolusi No. 193/2025/QH15 serta Undang-Undang Industri Teknologi Digital No. 71/2025/QH15. Kerangka hukum ini dirancang untuk menciptakan terobosan dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI), semikonduktor, dan ekosistem digital nasional hingga tahun 2045.

Tantangan utama terletak pada kebutuhan daya yang masif dari pusat data AI dan pabrik semikonduktor modern. Menurut data IEA, kepadatan daya server AI jauh melampaui server konvensional, membutuhkan stabilitas pasokan listrik dengan tingkat ketersediaan mencapai 99,999%. Tanpa persiapan energi yang matang, target ambisius Vietnam untuk menjadi pusat teknologi kawasan dapat terhambat oleh keterbatasan infrastruktur listrik.

Menanggapi hal tersebut, pemerintah telah menyetujui revisi Rencana Pembangunan Energi VIII. Fokus utamanya adalah diversifikasi sumber energi, dengan integrasi energi terbarukan, gas alam cair (LNG), hingga rencana pengembangan tenaga nuklir. Proyeksi investasi sebesar US$136 miliar pada periode 2026-2030 dialokasikan untuk memastikan ketersediaan energi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Profesor Quoc Sy menekankan perlunya sinkronisasi antara perencanaan infrastruktur energi dan teknologi. Kolaborasi lintas disiplin antara ahli energi dan tenaga IT dianggap sebagai kunci keberhasilan operasional di masa depan. Pada akhirnya, persiapan infrastruktur listrik yang andal adalah syarat mutlak bagi Vietnam untuk bertransformasi menjadi negara maju berpenghasilan tinggi dengan basis industri yang modern dan kompetitif di kancah global.