Pasar emas global diprediksi akan terus mengalami fluktuasi sepanjang Juli 2026. Analis memproyeksikan harga emas (XAU/USD) akan berada pada kisaran US$4.186 hingga US$4.933 per troy ounce, dengan rata-rata harga di angka US$4.559 per troy ounce. Ketidakpastian geopolitik global serta arah kebijakan moneter Amerika Serikat menjadi pemicu utama dinamika harga ini.

Di sisi lain, terdapat pandangan yang cenderung pesimistis dari sejumlah analis. Jika tekanan ekonomi global dan kebijakan moneter ketat terus berlanjut, harga logam mulia ini berisiko melemah ke rentang US$3.816 hingga US$4.370 per troy ounce menjelang akhir tahun 2026. Konflik yang belum terselesaikan antara Amerika Serikat dan Iran terkait isu nuklir serta keamanan Selat Hormuz turut menambah sentimen negatif bagi pasar.

Kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) tetap menjadi fokus utama investor. Data CME Group menunjukkan probabilitas sebesar 70,6% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga di level 3,50%–3,75% pada pertemuan Juli mendatang. Suku bunga yang tinggi secara historis cenderung menekan daya tarik emas dibandingkan dengan instrumen investasi yang menawarkan imbal hasil tetap.

Kendati dihadapkan pada tantangan suku bunga, permintaan emas global justru mencatatkan tren positif. Laporan World Gold Council (WGC) menyebutkan bahwa permintaan emas pada kuartal pertama 2026 mencapai rekor tertinggi sebanyak 1.231 ton. Dominasi permintaan ini didorong oleh investor individu dan pembelian emas batangan yang melonjak signifikan sebesar 50% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sebaliknya, sektor perhiasan menunjukkan penurunan konsumsi sebesar 24% pada kuartal pertama, terutama di pasar utama seperti China, India, dan Timur Tengah. Sementara itu, sektor teknologi tetap menunjukkan ketahanan dengan kenaikan permintaan emas sebesar 1%, didorong oleh kebutuhan material pada industri komponen elektronik.