PT Indonesia AirAsia menyatakan keyakinannya bahwa permintaan perjalanan udara akan kembali mengalami pertumbuhan signifikan pada semester II/2026. Meskipun saat ini industri penerbangan sedang menghadapi fase penurunan jumlah penumpang akibat fenomena musiman pasca-libur panjang, pihak manajemen menilai fundamental pasar tetap kokoh.
Head of Indonesia Affairs and Policy Indonesia AirAsia, Eddy Krismeidi Soemawilaga, menjelaskan bahwa fluktuasi jumlah penumpang merupakan siklus yang lazim terjadi. Kebutuhan masyarakat untuk bermobilisasi demi kepentingan bisnis, sektor pendidikan, kunjungan keluarga, maupun wisata dinilai tetap menjadi penopang utama keberlanjutan industri transportasi udara.
Untuk menyiasati tantangan operasional, AirAsia kini menerapkan strategi yang lebih adaptif. Langkah tersebut meliputi pengoptimalan kapasitas penerbangan, penguatan konektivitas melalui layanan Fly-Thru, serta penyelenggaraan program promosi berkala. Fokus perusahaan adalah memastikan efisiensi layanan tanpa mengesampingkan ketepatan waktu serta kenyamanan penumpang.
Eddy juga menyoroti mengenai dinamika biaya operasional yang masih menantang. Meski harga avtur mulai melandai dalam dua bulan terakhir, faktor eksternal seperti nilai tukar rupiah dan biaya perawatan pesawat tetap menjadi variabel krusial yang mempengaruhi struktur harga tiket. Oleh karena itu, perusahaan terus menjaga disiplin operasional agar tetap mampu menawarkan harga yang kompetitif bagi pelanggan.
Optimisme maskapai ini juga didasarkan pada proyeksi meningkatnya agenda nasional maupun internasional, serta momentum libur akhir tahun yang diprediksi akan menjadi katalisator lonjakan permintaan. Indonesia AirAsia menegaskan komitmennya untuk terus bersinergi dengan seluruh pemangku kepentingan dalam menciptakan ekosistem penerbangan yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan bagi pertumbuhan ekonomi nasional.