Selain Bulan yang selama ini dikenal sebagai satelit alami Bumi, terdapat objek-objek unik yang dikenal sebagai bulan semu atau quasi-moon. Objek ini tidak mengorbit Bumi secara langsung, melainkan mengelilingi Matahari dengan kecepatan yang sinkron dengan orbit Bumi, sehingga tampak seolah-olah terus membayangi planet kita.

Dari delapan bulan semu yang telah teridentifikasi, Kamo‘oalewa—atau objek 2016HO3—menjadi perhatian utama para astronom. Dengan dimensi mencapai 45 hingga 60 meter, analisis spektroskopi mengindikasikan bahwa bongkahan batu raksasa ini mungkin bukanlah asteroid biasa, melainkan material yang terlontar dari permukaan Bulan akibat hantaman benda langit di masa silam.

Badan Antariksa Cina (CNSA) secara resmi telah membawa misi Tianwen-2 mendekati objek tersebut setelah menempuh perjalanan selama satu tahun. Misi ini membawa ambisi besar untuk melakukan pengambilan sampel fisik langsung dari permukaan Kamo‘oalewa guna dianalisis di Bumi.

Para ahli menilai Kamo‘oalewa sebagai 'fosil hidup' yang menyimpan data otentik mengenai pembentukan awal tata surya. Keberhasilan misi ini diharapkan dapat memberikan wawasan mendalam mengenai sejarah evolusi antariksa, sekaligus memperkuat kapabilitas pertahanan planet kita melalui pemahaman yang lebih baik terhadap objek dekat Bumi (NEO).