Malaria pada anak-anak sering kali berkembang menjadi kondisi yang jauh lebih serius dibandingkan pada orang dewasa. Para ahli kesehatan menyoroti bahwa kerentanan ini berakar pada perbedaan fisiologis serta sistem kekebalan tubuh anak yang masih dalam tahap perkembangan.

Dr. Ankur Ohri, Konsultan Pediatri Umum di Rumah Sakit Anak Madhukar Rainbow, menjelaskan bahwa parasit malaria menyerang sel darah merah, yang merupakan komponen vital untuk mendistribusikan oksigen ke seluruh tubuh. Pada anak-anak, laju metabolisme yang tinggi dan cadangan tubuh yang lebih terbatas menyebabkan kondisi kesehatan mereka menurun secara drastis saat sel darah merah mulai dihancurkan oleh parasit.

Dari sisi imunologi, Dr. Amit Prakash Singh, Konsultan Penyakit Dalam di Rumah Sakit CK Birla, menambahkan bahwa orang dewasa yang tinggal di wilayah endemis sering kali memiliki kekebalan alami akibat paparan berulang. Sebaliknya, anak-anak belum memiliki perlindungan tersebut, sehingga mereka lebih mudah mengalami komplikasi fatal seperti anemia berat, gangguan pernapasan, hipoglikemia, hingga malaria serebral yang berisiko menyebabkan kejang dan kerusakan otak permanen.

Selain faktor biologis, pola aktivitas anak yang sering bermain di luar ruangan meningkatkan risiko gigitan nyamuk. Dr. Ohri menekankan bahwa keterlambatan penanganan sering terjadi karena orang tua kerap menganggap gejala awal—seperti demam, lemas, dan muntah—sebagai infeksi virus biasa. Kesalahpahaman ini menyebabkan banyak orang tua memilih untuk mengobati anak secara mandiri alih-alih mencari bantuan medis profesional.

Para ahli menegaskan bahwa deteksi dini adalah kunci penyelamat nyawa. Orang tua diimbau untuk tidak mengabaikan gejala-gejala awal dan segera melakukan pemeriksaan medis. Upaya pencegahan, seperti penggunaan kelambu berinsektisida dan pengendalian sarang nyamuk, tetap menjadi langkah preventif paling efektif untuk melindungi anak dari bahaya malaria yang mengancam jiwa.