Belakangan ini, jagat media sosial ramai memperbincangkan olahraga Hyrox yang disebut-sebut sebagai versi elit atau 'fancy' dari pekerjaan kuli bangunan. Fenomena ini muncul lantaran adanya kemiripan visual dalam pola gerakan yang dilakukan peserta kompetisi dengan aktivitas fisik para pekerja di lapangan.

Hyrox sendiri merupakan format kompetisi kebugaran global yang mengintegrasikan lari dan latihan fungsional secara konsisten. Dalam setiap ajang, peserta diwajibkan berlari sejauh 8 kilometer yang diselingi dengan 8 jenis latihan kekuatan, seperti mendorong beban atau memindahkan benda berat. Pola yang berulang inilah yang memicu asosiasi publik dengan gerakan mengangkat sak semen atau mendorong gerobak pasir.

Namun, pakar kedokteran olahraga, dr. Andhika Raspati, SpKO, menegaskan bahwa menyamakan keduanya adalah sebuah kekeliruan. Menurutnya, meskipun secara mekanik gerakannya tampak serupa, Hyrox dirancang dengan standar yang jauh lebih terukur. Setiap repetisi, beban, dan set dalam Hyrox ditentukan berdasarkan program yang terstruktur untuk mencapai target kebugaran tertentu, berbeda dengan beban kerja kuli yang bersifat situasional.

Secara teknis, Hyrox mengadopsi prinsip functional training yang melatih tubuh sebagai satu kesatuan, bukan mengisolasi otot secara spesifik seperti pada latihan bodybuilding konvensional. Pendekatan ini memungkinkan praktisi mendapatkan manfaat ganda, yakni peningkatan daya tahan jantung-paru sekaligus kekuatan otot dalam satu sesi latihan.

Meski menawarkan efektivitas tinggi, dr. Andhika memberikan catatan penting bagi masyarakat yang tertarik mencoba. Ia mengingatkan bahwa Hyrox tergolong dalam kategori olahraga intensitas tinggi yang menuntut kesiapan fisik dan mental yang matang. Penting bagi pemula untuk fokus pada teknik atau form gerakan yang benar sebelum mengejar kecepatan dan intensitas, guna meminimalisir risiko cedera saat berlatih.