Sektor ekspor pertanian Vietnam saat ini tengah berada dalam posisi sulit akibat lonjakan biaya logistik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tekanan finansial ini menggerus margin keuntungan secara signifikan, bahkan ketika volume operasional bisnis tetap menunjukkan tren pertumbuhan yang positif. Fenomena tersebut menjadi sorotan utama dalam forum HUBA Business Coffee ke-90 di Kota Ho Chi Minh, yang secara khusus membahas strategi mitigasi bagi perusahaan di tengah ketidakpastian biaya pengiriman global.

Para pelaku usaha mengungkapkan dampak yang cukup ekstrem. Sebagai contoh, PT Phuc Sinh melaporkan lonjakan pengeluaran logistik bulanan dari kisaran 7-8 miliar VND menjadi 22 miliar VND. Situasi serupa dialami oleh Vina T&T Group, yang menghadapi kenaikan tarif kontainer lebih dari 200 persen, yakni dari 2.800 USD menjadi 7.800 USD per unit hanya dalam kurun waktu dua bulan. Kondisi ini menjadi sangat krusial bagi industri buah segar yang memiliki keterbatasan masa simpan dan menuntut ketepatan waktu distribusi.

Sebagai langkah strategis, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Ho Chi Minh berkomitmen melakukan transformasi sistem logistik kota melalui pengembangan infrastruktur transportasi multimodal. Proyek-proyek strategis seperti jalan tol regional dan koneksi jalur kereta api langsung ke pelabuhan Cai Mep - Thi Vai menjadi prioritas utama. Pemerintah menargetkan penurunan rasio biaya logistik nasional ke level 11-14 persen guna menciptakan ekosistem perdagangan yang lebih efisien dan kompetitif.

Di sisi lain, Asosiasi Pengusaha Kota Ho Chi Minh (HUBA) mendorong solusi kolaboratif bagi para pelaku usaha untuk meminimalisir kendala jangka pendek. Ketua HUBA, Bapak Nguyen Ngoc Hoa, menyarankan agar perusahaan ekspor membangun aliansi kerja sama dengan penyedia logistik untuk berbagi jadwal pengiriman. Melalui koordinasi yang lebih terintegrasi dalam pemanfaatan ruang kontainer, diharapkan inefisiensi dapat ditekan tanpa harus menunggu penyelesaian proyek infrastruktur berskala besar.