Pada tahun 1893, sebuah peristiwa bersejarah terjadi ketika pabrikan motor asal Jerman, Hildebrand und Wolfmuller, menerima pesanan yang tak terduga. Untuk pertama kalinya, mereka mendapatkan permintaan pengiriman kendaraan dari luar benua Eropa, tepatnya dari seorang pria yang menetap di Probolinggo, Jawa Timur.
Pemesan tersebut adalah John Charles Matthew Potter, seorang warga negara Inggris yang bekerja sebagai teknisi di industri gula. Berkat keahliannya dalam memodernisasi mesin-mesin pabrik, Potter berhasil mengumpulkan pundi-pundi kekayaan yang ia gunakan untuk mendatangkan sepeda motor berkapasitas 1.500 cc ke Tanah Air dengan harga 1.000 gulden.
Kehadiran motor tersebut sontak menarik perhatian luas masyarakat yang kala itu hanya mengenal kereta api dan delman sebagai alat transportasi utama. Potter, yang juga dikenal sebagai penasihat teknis dari Firma Noll, secara tidak langsung menjadi pionir yang membuka pintu bagi perkembangan teknologi kendaraan bermotor di Hindia Belanda.
Keberhasilan Potter dalam mengoperasikan motor di jalanan Probolinggo memicu rasa penasaran dari kalangan elite, termasuk Sunan Pakubuwana X. Seiring berjalannya waktu, Potter pun beralih peran menjadi perantara bagi kaum berada yang ingin memiliki kendaraan pribadi, termasuk mobil pertama yang tiba di Indonesia pada 1894.
Sejarah mencatat bahwa inisiatif Potter menjadi katalisator transisi moda transportasi di Indonesia. Dari yang semula mengandalkan tenaga hewan, masyarakat mulai beralih ke kendaraan bermesin yang lebih efisien, hingga akhirnya tercatat sebanyak puluhan ribu kendaraan bermotor beroperasi di nusantara pada tahun 1928.