Lanskap telekomunikasi nasional kini tengah mengalami transformasi signifikan. Dua entitas besar, Infranexia milik Telkom Group dan PT Infra Fiber Teknologi (IFT)—hasil kolaborasi Indosat Ooredoo Hutchison dengan Arsari Group—muncul sebagai pemain kunci dalam penyediaan infrastruktur serat optik berskala grosir (wholesale). Keduanya mengadopsi model bisnis akses terbuka yang tidak menyasar konsumen ritel secara langsung, melainkan fokus pada penyediaan kapasitas jaringan bagi operator lain.
Perbedaan mencolok terlihat dari orientasi jangkauan geografis masing-masing entitas. Infranexia memanfaatkan keunggulan warisan aset infrastruktur Telkom yang membentang luas hingga ke pelosok wilayah 3T serta area residensial padat. Di sisi lain, Infra Fiber Teknologi memilih pendekatan yang lebih presisi dengan memprioritaskan efisiensi interkoneksi pada rute data perkotaan, pusat bisnis, kawasan data center, serta kabel laut yang menghubungkan pusat pertumbuhan ekonomi digital.
Dari sisi aset, dominasi volume masih dipegang oleh Infranexia dengan total bentangan kabel mencapai lebih dari 170.000 kilometer, yang merupakan hasil pemisahan aset strategis Telkom. Sementara itu, Infra Fiber Teknologi mengelola jaringan sepanjang 86.000 kilometer. Meski secara kuantitas lebih kecil, aset IFT diklaim sangat optimal untuk menangani densitas data tinggi di kawasan metropolitan.
Perbedaan filosofi bisnis juga terlihat dari portofolio produk yang ditawarkan. Infranexia mengandalkan skema VULA, Bitstream Services, dan infrastruktur fiber ke rumah (FTTH). Sebaliknya, Infra Fiber Teknologi memperkuat posisinya melalui layanan kabel optik bawah laut berlatensi rendah untuk kebutuhan korporasi global dan penyewaan jalur kabel serat optik mentah (dark fiber) bagi mitra industri.
Struktur korporasi pun mencerminkan perbedaan latar belakang entitas. Infranexia sebagai anak usaha Telkom Indonesia yang terikat dengan nilai-nilai BUMN, sementara IFT membawa fleksibilitas kemitraan strategis swasta dengan fokus pada reliabilitas dan skalabilitas. Kehadiran kedua entitas ini diproyeksikan bakal menjadi katalisator efisiensi belanja modal bagi para pelaku industri telekomunikasi di Indonesia.