Upaya modernisasi sektor perikanan di Kabupaten Banjar kini memasuki babak baru. Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Banjar berkolaborasi dengan akademisi dari Universitas Hasanuddin dan Universitas Lambung Mangkurat untuk mengimplementasikan teknologi pemantau kualitas air berbasis multisensor yang dikenal dengan nama Aquanotes.

Teknologi ini mulai diujicobakan pada kolam budidaya milik Kelompok Tabulihin di Desa Karang Intan, Kecamatan Karang Intan. Berbeda dengan metode konvensional yang kerap terkendala keterbatasan waktu pemantauan, Aquanotes menawarkan kemampuan pengawasan secara real-time selama 24 jam penuh. Alat ini mampu memantau delapan parameter vital kualitas air, termasuk tingkat keasaman (pH), suhu, oksigen terlarut (DO), hingga kadar amonia secara otomatis.

Prof. M. Iqbal Djawad, selaku peneliti, menjelaskan bahwa data yang dihimpun secara konsisten selama lima bulan akan menjadi acuan penting bagi para pembudidaya. Dengan durasi pemantauan per menit, pembudidaya dapat mengidentifikasi kondisi air yang paling optimal untuk pertumbuhan ikan, sehingga risiko kegagalan panen dapat diminimalisir secara signifikan.

Seluruh data hasil pemantauan terintegrasi dengan aplikasi ponsel pintar, memungkinkan pemilik kolam untuk memantau kesehatan ekosistem perairan dari jarak jauh. Inovasi ini diharapkan memberikan respons cepat bagi pembudidaya dalam mengambil tindakan mitigasi jika terjadi anomali kualitas air yang berpotensi membahayakan komoditas ikan.

Kepala Bidang Perikanan Budidaya DKPP Kabupaten Banjar, Bandi Chairullah, menyatakan bahwa langkah ini merupakan bagian dari visi besar pemerintah daerah dalam mentransformasi sistem budidaya tradisional menuju manajemen berbasis data yang lebih efisien. Keberhasilan uji coba di Karang Intan diharapkan dapat menjadi prototipe yang nantinya diterapkan secara luas di berbagai sentra perikanan air tawar di Kalimantan Selatan.