Sektor perunggasan di Indonesia kini menghadapi dinamika pasar global yang cukup menantang. Meski pendapatan utama emiten unggas masih ditopang oleh penjualan ayam broiler, segmen bisnis pakan ternak justru tampil sebagai kontributor laba operasional (EBIT) yang paling dominan.
Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas, Andreas Kristo Saragih, mengungkapkan bahwa stabilitas margin pada lini usaha pakan ternak didukung oleh penerapan model bisnis cost-plus. Skema ini memungkinkan produsen untuk menyesuaikan harga jual produk kepada pelanggan setiap kali terjadi kenaikan harga bahan baku, sehingga profitabilitas perusahaan tetap terjaga di tengah fluktuasi harga komoditas dunia.
Struktur biaya pakan sendiri masih sangat bergantung pada jagung dan bungkil kedelai. Meskipun pasokan jagung mayoritas dipenuhi dari pasar domestik, ketergantungan pada impor bungkil kedelai dari Amerika Serikat, Brasil, dan Argentina membuat industri ini rentan terhadap pergerakan nilai tukar dolar AS. Namun, mekanisme penetapan harga yang fleksibel terbukti cukup efektif untuk memitigasi risiko tersebut.
Lebih lanjut, prospek industri pakan ternak diproyeksikan akan terus cerah dalam jangka panjang. Hal ini selaras dengan tren perubahan gaya hidup dan meningkatnya konsumsi makanan olahan di Indonesia. Mengacu pada pola perkembangan di Korea Selatan, laju urbanisasi akan memicu lonjakan permintaan terhadap protein hewani dan produk pangan praktis.
Mirae Asset Sekuritas memproyeksikan bahwa Indonesia berada dalam fase pertumbuhan yang serupa dengan tren konsumsi di Korea Selatan sekitar satu dekade lalu. Dengan demikian, industri pakan ternak tidak hanya berperan sebagai penopang laba saat ini, tetapi juga memiliki fundamental yang kuat seiring dengan meningkatnya kebutuhan rantai pasok pangan olahan di masa depan.