Kementerian Koperasi tengah melakukan transformasi besar dalam tata niaga kelapa sawit nasional. Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menegaskan bahwa pemerintah kini menaruh perhatian serius agar koperasi tidak lagi hanya menjadi pelengkap, melainkan pemain utama dalam ekosistem industri sawit, mulai dari hulu hingga hilir.
Langkah strategis ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto. Selama ini, rantai produksi mulai dari perkebunan, pengolahan *Crude Palm Oil* (CPO), hingga produk turunan mayoritas dikuasai oleh pihak swasta. Ke depan, koperasi didorong untuk memiliki pabrik pengolahan sendiri guna memastikan kemandirian ekonomi bagi para petani.
Ferry menyoroti adanya ironi di lapangan, di mana para petani sawit justru kerap kesulitan mendapatkan akses minyak goreng. Fenomena tersebut dipandang sebagai kendala serius yang harus segera diatasi dengan memperkuat peran koperasi dalam rantai pasok dan produksi barang kebutuhan pokok masyarakat.
Sebagai bentuk komitmen nyata, pemerintah dijadwalkan akan meresmikan pabrik CPO milik koperasi di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, pada akhir Juli atau awal Agustus mendatang. Fasilitas tersebut diproyeksikan mampu memproduksi 60 ton CPO per jam dari lahan seluas 3.100 hektare, yang nantinya akan diproses menjadi minyak makan merah atau minyak goreng melalui jejaring Koperasi Desa Merah Putih.