Penerima penghargaan Kalpataru 2020, RB Sutarno, menginisiasi gerakan perubahan paradigma masyarakat dalam memandang limbah rumah tangga. Ia menekankan bahwa ketergantungan pada Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dapat ditekan secara signifikan apabila masyarakat mulai mengolah sampah organik langsung dari sumbernya menggunakan metode yang efisien.

Sebagai solusi, Sutarno memperkenalkan teknologi yang disebut 'Utama Composter'. Alat ini dirancang khusus untuk memudahkan pengolahan sampah organik rumah tangga tanpa memerlukan proses yang rumit, seperti mencacah, mengaduk, atau khawatir akan munculnya aroma tidak sedap. Keunggulan utama dari metode ini adalah kemampuannya beroperasi tanpa perlu pengangkutan ke luar rumah.

Inovasi ini dinilai sangat relevan bagi masyarakat urban yang memiliki keterbatasan lahan. Dengan hanya membutuhkan ruang berdiameter 36 sentimeter, setiap keluarga dapat mengubah sisa sampah organik menjadi nutrisi atau pupuk hijau bagi tanaman. Langkah ini tidak hanya mendukung kebersihan lingkungan, tetapi juga berkontribusi pada ketahanan pangan di tingkat keluarga.

Menjelang peringatan Hari Lingkungan, Sutarno mengajak warga untuk mulai berkolaborasi di tingkat RT dan RW dalam menciptakan ekosistem pengolahan sampah mandiri. Ia optimistis bahwa melalui gerakan kolektif, sampah organik tidak lagi menjadi beban bagi sistem pengelolaan limbah kota, melainkan berubah menjadi sumber daya bernilai bagi penghijauan.

Dengan semangat "Satu Hati Lestarikan Bumi", Sutarno berharap setiap rumah dapat menjadi model percontohan bagi pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Melalui langkah kecil dari hunian masing-masing, dampak signifikan terhadap pelestarian bumi diyakini dapat terwujud secara nyata dan menyeluruh.