Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Timur berhasil mencatatkan capaian signifikan dalam pengendalian penyakit demam berdarah dengue (DBD). Sepanjang periode Januari hingga Mei 2026, tingkat fatalitas atau angka kematian akibat virus tersebut mampu ditekan di angka 0,13 persen, jauh lebih rendah dibandingkan target rencana strategis yang dipatok pada angka maksimal 0,4 persen.

Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin, menyatakan bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari kolaborasi intervensi medis yang sigap serta edukasi berkelanjutan. Beberapa langkah strategis yang telah dijalankan meliputi pemberian vaksinasi DBD serta implementasi teknologi nyamuk ber-Wolbachia sebagai pilot project di Kota Bontang, yang terbukti efektif meminimalisir penyebaran virus.

Data Dinkes Kaltim mencatat, hingga Mei 2026, terdapat 1.530 kasus infeksi dengue di wilayah tersebut. Dari jumlah tersebut, angka kematian berhasil diminimalisir hingga hanya menyisakan dua kasus di Mahakam Ulu dan Bontang. Tingginya angka kesembuhan ini menunjukkan kesiapan fasilitas kesehatan daerah dalam menangani pasien sebelum memasuki fase kritis.

Meski angka fatalitas rendah, tantangan di lapangan masih nyata. Balikpapan menjadi wilayah dengan sebaran kasus tertinggi sebanyak 327 orang, diikuti oleh Samarinda dengan 246 kasus, dan Kutai Kartanegara sebanyak 241 kasus. Selain itu, indeks angka bebas jentik di Kaltim saat ini berada di level 83,55 persen, angka yang masih menempatkan wilayah tersebut dalam kategori berisiko.

Menyikapi data tersebut, pihak otoritas kesehatan menekankan pentingnya peran serta masyarakat di sektor hulu. Jaya Mualimin mengimbau warga agar tidak hanya mengandalkan penanganan medis, tetapi juga proaktif dalam menjaga kebersihan lingkungan dengan rutin menerapkan gerakan 3M, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, dan mendaur ulang barang bekas.