Sektor properti di Vietnam menghadapi fase konsolidasi yang cukup tajam sepanjang paruh pertama tahun ini. Data dari Kantor Statistik Umum mencatat sebanyak 1.463 perusahaan properti telah menuntaskan prosedur pembubaran, sebuah lonjakan drastis sebesar 120% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Selain itu, hampir 3.000 entitas bisnis lainnya dilaporkan memilih untuk menangguhkan kegiatan operasional mereka di tengah iklim pasar yang menantang.

Kendati diwarnai oleh gelombang penutupan usaha, gairah pembentukan bisnis baru tetap terasa dengan 3.192 perusahaan properti baru yang mendaftarkan diri, meningkat 23% dibanding tahun lalu. Fenomena ini mencerminkan transisi pasar yang selektif, di mana perusahaan dengan fundamental keuangan dan legalitas yang lemah terpaksa mundur, sementara pelaku industri yang lebih resilien mencoba mempertahankan posisinya.

Dari sisi investasi, sektor properti tetap menjadi pilar strategis bagi ekonomi Vietnam. Total investasi asing langsung (FDI) yang terserap ke sektor ini mencapai US$5,1 miliar, yang menempatkannya sebagai sektor dengan daya tarik investasi terbesar kedua setelah manufaktur. Para pakar menilai bahwa modal asing kini lebih menyasar proyek-proyek dengan kepastian hukum yang transparan dan utilitas pasar yang nyata, alih-alih spekulasi jangka pendek.

Dr. Nguyen Van Dinh, Wakil Ketua Asosiasi Real Estat Vietnam (VNREA), menekankan bahwa pemulihan pasar berjalan dengan sangat hati-hati. Saat ini, daya beli masyarakat belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi, dan tekanan biaya modal masih menjadi beban berat bagi pengembang. Ke depan, pertumbuhan sektor properti diprediksi akan bergantung pada pengembangan infrastruktur transportasi, ekspansi kawasan ekonomi baru, serta penguatan sektor pariwisata yang diharapkan dapat mengalirkan kembali arus kas berkelanjutan bagi industri.