Ketua Dewan Juri Bisnis Indonesia Awards (BIA) 2026, Raden Pardede, menekankan bahwa di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif, ketahanan sebuah perusahaan sangat bergantung pada kekuatan fundamental internalnya. Menurutnya, pertumbuhan yang berkelanjutan tidak dapat sekadar mengandalkan peningkatan laba semata, melainkan harus dibarengi dengan manajemen modal, likuiditas, efisiensi operasional, dan tata kelola perusahaan yang disiplin.
Raden menjelaskan bahwa Indonesia kerap menghadapi tekanan ekonomi, namun perusahaan dengan fondasi bisnis yang solid terbukti mampu melewati berbagai fase sulit tersebut. Dalam proses penjurian BIA 2026, dewan juri telah menetapkan serangkaian parameter ketat untuk menilai kesehatan korporasi, baik di sektor non-perbankan maupun perbankan.
Untuk sektor non-perbankan, indikator yang dinilai mencakup margin laba bersih (NPM), imbal hasil atas ekuitas (ROE), serta efisiensi aset. Sementara itu, untuk sektor perbankan, evaluasi difokuskan pada rasio margin bunga bersih (NIM), rasio kecukupan modal (CAR), hingga perbandingan beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO). Selain kinerja keuangan, dewan juri turut menyoroti indikator pasar seperti nilai buku saham dan penerapan aspek keberlanjutan atau ESG.
Proses penilaian BIA 2026 dilakukan melalui seleksi kuantitatif dan kualitatif yang mendalam terhadap kinerja perusahaan selama periode 2023–2025. Selain performa finansial, perusahaan wajib memiliki rekam jejak yang bersih dari sanksi regulator, suspensi, maupun masalah perpajakan agar dapat lolos dalam seleksi.
Raden berharap penghargaan ini dapat menjadi motivasi bagi pelaku usaha untuk terus meningkatkan kualitas bisnis mereka. Ia juga menegaskan bahwa peluang bagi perusahaan untuk meraih prestasi di masa depan tetap terbuka lebar selama mereka terus memperkuat fundamental dan integritas tata kelolanya.