Belakangan ini, media sosial diramaikan dengan diskusi mengenai fenomena Aphelion yang dianggap sebagai penyebab utama cuaca dingin di berbagai wilayah Indonesia. Fenomena astronomis yang dijadwalkan terjadi pada 7 Juli ini sering kali dikaitkan masyarakat dengan penurunan suhu ekstrem yang dirasakan pada pagi hari.
Pakar Astronomi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, menegaskan bahwa Aphelion adalah kondisi tahunan saat Bumi berada pada titik terjauh dari Matahari akibat orbit yang tidak berbentuk lingkaran sempurna. Namun, ia memastikan bahwa peristiwa ini tidak memiliki dampak signifikan terhadap kondisi cuaca atau atmosfer di permukaan Bumi.
Menurut Thomas, anggapan yang menghubungkan Aphelion dengan suhu dingin adalah keliru. Penurunan suhu yang terjadi di Indonesia saat ini justru dipicu oleh pergerakan angin dingin yang berasal dari arah Australia, di mana negara tersebut sedang memasuki puncak musim dingin.
Senada dengan pihak BRIN, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga telah memberikan klarifikasi serupa. Lembaga tersebut menjelaskan bahwa udara dingin di bulan Juli merupakan siklus alamiah yang lazim terjadi pada puncak musim kemarau di Indonesia.
BMKG menambahkan, fenomena cuaca ini bahkan berpotensi menyebabkan pembentukan embun es atau sering disebut embun upas di wilayah dataran tinggi seperti Dieng. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak mengaitkan fenomena atmosfer lokal dengan kejadian astronomis rutin yang tidak berdampak langsung pada suhu udara di Indonesia.