Fenomena gelombang panas yang melanda benua Eropa belakangan ini menarik perhatian publik global. Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Utama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Guswanto, menjelaskan bahwa anomali cuaca tersebut dipicu oleh kombinasi pola atmosfer yang kompleks, letak geografis, serta dampak perubahan iklim global.

Guswanto memaparkan bahwa salah satu faktor dominan adalah pembentukan fenomena atmosfer yang dikenal sebagai omega block dan heat dome. Dalam kondisi omega block, aliran jet stream yang seharusnya bergerak dari barat ke timur justru terhambat dan membentuk pola menyerupai huruf Yunani omega. Hal ini menciptakan semacam 'kemacetan' atmosfer, di mana massa udara panas terjebak di suatu wilayah dalam durasi yang lama.

Sementara itu, heat dome bekerja layaknya tutup panci raksasa yang memerangkap udara panas di permukaan bumi. Tekanan udara tinggi ini menyebabkan kompresi udara yang memicu peningkatan suhu secara signifikan, didukung dengan kondisi langit cerah yang memungkinkan radiasi matahari memanaskan permukaan bumi secara maksimal tanpa hambatan awan.

Letak geografis Eropa di lintang menengah (35-55 derajat LU) menjadikannya sangat rentan terhadap intrusi massa udara panas yang berasal dari Gurun Sahara, Afrika Utara. Ketika pola atmosfer omega block terjadi, massa udara panas ini tersedot dan terperangkap di wilayah Eropa. Selain itu, pemanasan global memperparah kondisi ini dengan laju peningkatan suhu di Eropa yang tercatat dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global.

Menanggapi kekhawatiran masyarakat mengenai potensi fenomena serupa di Indonesia, BMKG memberikan klarifikasi tegas. Guswanto menekankan bahwa gelombang panas hampir mustahil terjadi di wilayah Indonesia karena karakteristik atmosfer tropis yang dinamis, cenderung berubah, dan tidak stabil.

Cuaca panas yang dirasakan masyarakat Indonesia akhir-akhir ini murni merupakan fenomena musiman yang dipengaruhi oleh gerak semu matahari serta kondisi langit yang cerah selama musim kemarau. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak menyamakan fenomena panas musiman di Indonesia dengan gelombang panas ekstrem yang terjadi di Eropa.