Suhu udara yang meningkat tajam dan kelembapan tinggi kini menjadi ancaman serius bagi kesehatan jantung. Saat cuaca panas ekstrem, jantung dipaksa bekerja ekstra keras untuk menjaga stabilitas suhu tubuh melalui proses pendinginan alami, yakni dengan meningkatkan detak jantung serta melebarkan pembuluh darah.
Dr. Manesh Patel dari Duke Health menekankan bahwa beban kerja berlebih ini dapat menimbulkan risiko fatal, baik bagi pengidap penyakit jantung maupun individu yang sehat. Fenomena ini diperparah dengan adanya perubahan iklim yang memicu gelombang panas lebih panjang, yang tercatat sebagai penyebab kematian terkait cuaca tertinggi saat ini.
Kondisi tubuh menjadi semakin rentan ketika pembuluh darah mengalami penyumbatan, sehingga kemampuan tubuh untuk melepas hawa panas melalui aliran darah terhambat. Direktur medis IGD Rumah Sakit Universitas Duke, Lauren Siewny, menjelaskan bahwa ketidakseimbangan antara beban kerja jantung yang meningkat dengan keterbatasan kapasitas tubuh dapat memicu gangguan kesehatan serius.
Guna memitigasi risiko tersebut, masyarakat diimbau untuk membatasi aktivitas fisik di luar ruangan saat puncak suhu panas terjadi. Jika harus beraktivitas di luar, disarankan untuk mencari tempat berteduh, menggunakan pakaian berwarna terang, serta mengenakan perlindungan tambahan seperti topi dan tabir surya.
Hidrasi menjadi aspek krusial dalam menjaga kestabilan tubuh. Ahli kesehatan menyarankan konsumsi air putih yang cukup dan menghindari minuman berkafein atau beralkohol yang justru dapat mempercepat dehidrasi. Segera lakukan penanganan mandiri dengan berpindah ke tempat sejuk dan minum air dingin jika muncul gejala seperti pusing, mual, kram otot, atau detak nadi yang terasa lemah namun cepat, serta segera mencari bantuan medis jika kondisi tidak membaik.