Pesantren dan masjid kini didorong untuk melangkah melampaui peran tradisionalnya dengan bertransformasi menjadi laboratorium sosial berbasis sains dan teknologi. Langkah strategis ini bertujuan menjadikan institusi keagamaan sebagai pusat inovasi yang mampu menjawab problematika masyarakat modern, tanpa sedikit pun menanggalkan jati diri utamanya sebagai pusat pendalaman ilmu keislaman atau tafaqquh fi al-din.
Gagasan transformatif ini mengemuka dalam diskusi panel pada Muktamar Ilmu Pengetahuan IV yang berlangsung di UIN Sunan Kudus, Jumat (27/6/2026). Forum yang diinisiasi oleh Lakpesdam PWNU Jawa Tengah ini menekankan bahwa kemajuan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) harus diposisikan sebagai instrumen pendukung dalam menjalankan misi khidmah khaira ummah atau pengabdian bagi umat.
Kepala Subdirektorat Pendidikan Ma’had Aly, Machrus El Mawa, menegaskan bahwa santri dan kiai perlu keluar dari zona nyaman sebagai sekadar penjaga tradisi. Menurutnya, pesantren harus menjadi episentrum lahirnya inovasi relevan. Pandangan ini didukung oleh KH Fadhlullah Turmudzi yang menekankan bahwa setiap inovasi yang dilakukan tetap wajib berpijak pada sanad keilmuan yang kokoh dan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah sebagai fondasi moralnya.
Dari perspektif akademisi, Agus Suharjono Ekomadyo dari ITB memperkenalkan konsep budaya srawung sebagai modal sosial pesantren yang bisa disinergikan dengan sains modern. Ia berpendapat bahwa tradisi pesantren dan sains tidak perlu dibenturkan, melainkan harus dipadukan untuk menghasilkan kebermanfaatan yang lebih luas bagi masyarakat luas.
Sebagai penutup, para panelis sepakat bahwa masa depan ekosistem keagamaan terletak pada integrasi antara teknologi, riset terapan, dan pemberdayaan umat. Kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, serta dunia usaha diharapkan mampu menjadikan pesantren dan masjid sebagai ruang publik yang inklusif, adaptif, dan berdaya saing di tengah arus perubahan zaman.