Demam Berdarah Dengue (DBD) tetap menjadi tantangan kesehatan serius di wilayah tropis seperti Indonesia. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti ini memiliki siklus transmisi yang erat kaitannya dengan fase perkembangan nyamuk di media air, yakni saat berada dalam stadium telur, larva, hingga pupa.
Dalam upaya memperkuat strategi mitigasi, para peneliti yang terdiri dari Herri Sulaiman, Fatmawati, dan C. Alfiniyah mengembangkan sebuah model matematika inovatif. Model ini secara khusus mengintegrasikan laju pertumbuhan logistik pada tahap akuatik nyamuk, memberikan gambaran yang lebih presisi mengenai dinamika populasi vektor di lingkungan sekitar pemukiman.
Hasil analisis matematis menunjukkan tiga kondisi krusial dalam penyebaran virus, yakni titik setimbang bebas penyakit tanpa nyamuk, bebas penyakit namun dengan kehadiran nyamuk, serta kondisi endemik. Riset ini menyimpulkan bahwa stabilitas sistem sangat bergantung pada angka reproduksi dasar; ketika angka tersebut di bawah satu, maka wabah dapat ditekan, sementara jika melampaui satu, penyakit cenderung bersifat menetap atau endemik.
Model ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi otoritas kesehatan untuk mengambil kebijakan berbasis data dalam memutus rantai penularan DBD secara lebih efektif. Pendekatan kuantitatif ini melengkapi deretan studi sebelumnya, memberikan dimensi baru dalam pemahaman kontrol penyakit melalui pendekatan kompartemen asimtomatik dan variabel lingkungan lainnya.