Di tengah tantangan industri ponsel pintar global akibat lonjakan harga komponen chipset dan memori, Samsung mengambil langkah strategis dengan memperluas jangkauan teknologi kecerdasan buatan (AI) ke segmen menengah. Langkah ini dinilai sebagai upaya demokratisasi teknologi, di mana fitur-fitur premium yang sebelumnya eksklusif untuk lini flagship kini dapat dinikmati oleh khalayak yang lebih luas.
Data Counterpoint mencatat adanya kenaikan biaya produksi (Bill of Materials) yang signifikan pada ponsel entry-level hingga mid-end. Merespons kondisi tersebut, Samsung tidak sekadar melakukan penyesuaian harga, melainkan memberikan nilai tambah melalui penyematan fitur on-device AI dan Voice Transcription pada perangkat kelas menengah seperti Galaxy A37 5G dan A57 5G.
Head of MX Business Samsung Electronics Indonesia, Yadi Prayitno, menekankan bahwa keputusan ini didasari oleh perubahan perilaku konsumen yang kini memandang pembelian smartphone sebagai bentuk investasi jangka panjang. Dengan siklus penggantian perangkat yang semakin lama—mencapai 43 bulan—Samsung berkomitmen menghadirkan teknologi yang relevan dan tahan lama bagi pengguna.
Keunggulan utama dari pendekatan ini adalah pemrosesan data secara langsung di perangkat (on-device AI). Selain meningkatkan privasi dan keamanan karena data tidak perlu dikirim ke server cloud, fitur ini memungkinkan efisiensi kerja tanpa ketergantungan pada koneksi internet. Dukungan bahasa Indonesia yang kini telah diintegrasikan semakin mengukuhkan relevansi fitur tersebut bagi pengguna di Tanah Air.
Sebagai bentuk dukungan berkelanjutan, Samsung menjamin pembaruan sistem operasi dan keamanan hingga enam tahun untuk lini kelas menengahnya. Kebijakan ini menjadikan produk Samsung sebagai opsi yang ekonomis bagi konsumen, sekaligus mempersiapkan perangkat untuk era masa depan, termasuk kesiapan dalam menangani kemampuan agentic AI yang lebih kompleks.