Menghadapi lanskap perdagangan global yang terus berubah, perusahaan-perusahaan di China mulai merombak strategi operasional mereka dengan menempatkan ketahanan rantai pasok dan adopsi kecerdasan buatan (AI) sebagai poros utama pertumbuhan bisnis hingga 2026. Perubahan haluan ini bertujuan untuk memitigasi risiko dari dinamika tarif internasional, pergeseran kebijakan perdagangan, serta ketidakpastian geopolitik yang kian kompleks.
Berdasarkan data dari Global Trade Observatory oleh DP World, sebanyak 58 persen eksekutif logistik di China berencana untuk melakukan diversifikasi pemasok guna memperkuat daya tahan operasional. Selain diversifikasi, tren 'near-shoring' dan 'friend-shoring' juga menjadi langkah strategis yang diambil untuk mendekatkan operasional dengan pasar tujuan serta mempererat kolaborasi antarnegara mitra, guna memastikan kelancaran distribusi barang di tengah fluktuasi pasar.
Di sisi lain, teknologi muncul sebagai katalisator utama transformasi bisnis. Setidaknya 50 persen responden menempatkan implementasi AI sebagai prioritas utama dalam satu hingga tiga tahun ke depan, diikuti dengan percepatan digitalisasi operasional. Langkah ini selaras dengan visi pemerintah China yang menjadikan teknologi canggih dan kecerdasan buatan sebagai pilar krusial untuk meningkatkan produktivitas nasional di berbagai sektor, termasuk otomotif, fesyen, hingga kesehatan.
CEO dan Managing Director Asia Pacific DP World, Glen Hilton, menegaskan bahwa keunggulan perdagangan China di masa depan tidak lagi sekadar bergantung pada skala produksi atau efisiensi biaya semata. Sebaliknya, kemampuan perusahaan untuk beradaptasi melalui integrasi logistik yang komprehensif—mulai dari sistem pergudangan hingga pemantauan digital—akan menjadi penentu keberhasilan perusahaan dalam menjaga rantai pasok yang tangguh di kancah internasional.