Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Jumat (3/7/2026) dengan momentum yang sangat kuat. Setelah sempat dibuka menguat 1,07%, indeks terus menunjukkan taringnya hingga melesat 2,39% ke level 5.881 dalam tiga puluh menit pertama pembukaan pasar.
Data dari Bursa Efek Indonesia menunjukkan antusiasme investor yang tinggi dengan nilai transaksi mencapai Rp 2,59 triliun. Sebanyak 460 saham berhasil melaju di zona hijau, sementara sektor utilitas, barang baku, finansial, dan teknologi menjadi motor penggerak utama pertumbuhan indeks hari ini.
Saham-saham berkapitalisasi besar atau blue chip, terutama dari sektor perbankan dan BUMN, mendominasi penguatan. Bank Central Asia (BBCA) tercatat menjadi kontributor terbesar bagi kenaikan indeks, diikuti oleh Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan Bank Negara Indonesia (BBNI). Penguatan ini turut ditopang oleh sentimen positif pasca-pengumuman Danantara terkait laporan keuangan BUMN per Desember 2025 yang menunjukkan kinerja impresif sepanjang tahun lalu hingga April 2026.
Di sisi lain, optimisme investor juga dipicu oleh perkembangan ekonomi dari Amerika Serikat. Data tenaga kerja AS yang mulai mendingin memberikan sinyal bahwa bank sentral Amerika Serikat, The Fed, berpotensi menahan kenaikan suku bunga lebih lanjut. Pelemahan indeks dolar AS ke posisi 100,856 turut memperkuat sentimen positif tersebut, yang diharapkan memberikan dampak stabilisasi bagi nilai tukar rupiah dan arus modal di pasar keuangan domestik.
Sementara itu, kondisi bursa saham regional Asia-Pasifik terpantau bergerak bervariasi. Meski sebagian indeks utama di Asia terkoreksi akibat aksi rotasi investor dari sektor teknologi, pasar Indonesia tetap mampu menunjukkan performa impresif. Pencapaian ini sejalan dengan sentimen di Wall Street, di mana indeks Dow Jones berhasil menembus rekor penutupan tertinggi baru merespons harapan akan pemangkasan suku bunga di masa depan.