Mantan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, dikabarkan akan segera memulai rangkaian kunjungan ke berbagai wilayah di Indonesia mulai Juni 2026. Langkah ini diambil seiring dengan kondisi kesehatannya yang kini dinyatakan hampir pulih sepenuhnya setelah menyelesaikan masa baktinya sebagai kepala negara.
Sekretaris Jenderal DPP Projo, Freddy Alex Damanik, mengonfirmasi rencana tersebut menyusul pertemuan antara Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, dengan Jokowi baru-baru ini di Jakarta Timur. Selain agenda safari nasional, disepakati pula adanya pertemuan berkala setiap tiga bulan antara Jokowi dan para pendukungnya untuk menjaga komunikasi tetap solid.
Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, menilai pergerakan ini menunjukkan ketergantungan PSI yang masih sangat tinggi terhadap figur mantan presiden tersebut. Menurut Pangi, sosok Jokowi dipandang sebagai instrumen utama yang diharapkan mampu mendongkrak elektabilitas PSI agar mampu menembus ambang batas parlemen sebesar 4 persen.
Pangi mencermati bahwa aktivitas safari ini disinyalir bukan sekadar menyapa masyarakat, melainkan strategi terukur untuk mengamankan karier politik keluarga besar Jokowi di masa depan. Ia berpendapat bahwa PSI telah menjadi panggung politik krusial bagi trah Jokowi, sehingga keberhasilan partai tersebut dalam ajang elektoral mendatang menjadi taruhan besar bagi eksistensi politik keluarga mereka.
Kendati demikian, tantangan besar membayangi manuver ini. Pangi menyoroti adanya pergeseran sentimen publik di media sosial yang kini cenderung lebih kritis terhadap rekam jejak pemerintahan sebelumnya. Keberhasilan strategi "turun gunung" yang diusung mantan presiden ini nantinya akan menjadi ujian bagi efektivitas pengaruh personalnya di tengah dinamika opini publik yang kian dinamis.