Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Bali memproyeksikan kehadiran Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Keuangan Internasional sebagai katalisator utama dalam pengembangan wisata bisnis atau business leisure (bleisure) di Pulau Dewata. Integrasi antara aktivitas sektor keuangan dan pariwisata ini diyakini mampu menarik profil wisatawan berkualitas yang memberikan kontribusi ekonomi lebih signifikan.

Deputi Direktur Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali, Yusuf Wicaksono, menyatakan bahwa inisiatif ini merupakan langkah strategis untuk mendiversifikasi produk pariwisata Bali. Dengan adanya pusat keuangan internasional, diharapkan terjadi peningkatan kualitas belanja serta durasi kunjungan wisatawan yang berimplikasi positif pada keberlanjutan ekonomi jangka menengah hingga panjang.

Kawasan Kura Kura di Desa Serangan, Denpasar, digadang-gadang menjadi lokasi utama pusat keuangan tersebut. Pemerintah saat ini tengah mematangkan regulasi serta menyiapkan infrastruktur esensial guna memastikan KEK ini beroperasi sesuai standar internasional, selaras dengan visi pemerintah pusat yang ingin menjadikan Bali sebagai salah satu hub finansial global.

Data dari Dinas Pariwisata Bali mencatat pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara pada 2025 yang mencapai 7,05 juta jiwa, meningkat dari 6,33 juta jiwa pada tahun sebelumnya. Meskipun pengeluaran per malam wisatawan mengalami kenaikan, rata-rata durasi kunjungan tercatat sedikit menurun menjadi hampir 12 malam dari sebelumnya 13 malam pada 2024.

Menanggapi hal tersebut, PHRI Bali menegaskan pentingnya pergeseran fokus pariwisata Bali ke arah pariwisata berkualitas. Transformasi menuju sektor wisata bisnis diharapkan dapat menjawab tantangan tersebut dengan menawarkan nilai ekonomi yang lebih tinggi, pelayanan prima, serta dampak positif yang berkelanjutan bagi ekosistem pariwisata di Bali.