Kehadiran Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Keuangan Internasional di Bali dinilai menjadi katalisator penting dalam memperkuat sektor wisata bisnis atau business leisure (bleisure). Langkah strategis ini diharapkan mampu menarik profil wisatawan berkualitas yang tidak hanya berorientasi pada liburan, tetapi juga melakukan aktivitas bisnis di Pulau Dewata.
Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Yusuf Wicaksono, mengungkapkan bahwa diversifikasi produk pariwisata melalui integrasi keuangan internasional akan memberikan dampak ekonomi jangka menengah hingga panjang. Kawasan Kura Kura di Desa Serangan, Denpasar, digadang-gadang bakal menjadi pusat dari pengembangan ekosistem finansial tersebut.
Pemerintah pusat melalui Kemenko Perekonomian saat ini terus mematangkan regulasi dan infrastruktur pendukung guna mewujudkan Bali sebagai salah satu pusat keuangan internasional. Upaya ini selaras dengan tren pariwisata terkini yang berfokus pada kualitas kunjungan, mengingat rata-rata lama tinggal wisatawan mancanegara sempat mengalami penurunan dari 13 malam menjadi hampir 12 malam pada tahun 2025.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris PHRI Bali, Perry Markus, menegaskan bahwa industri pariwisata kini tengah bertransformasi mengejar nilai ekonomi yang lebih tinggi dan berkelanjutan. Fokus utama pelaku industri adalah memastikan setiap kunjungan membawa manfaat nyata bagi ekonomi lokal, pelestarian budaya, serta menjaga keseimbangan lingkungan, guna memastikan Bali tetap menjadi destinasi pilihan dunia yang inklusif.