Tiga raksasa telekomunikasi Indonesia, yakni PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), PT Indosat Tbk. (ISAT), dan PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL), dijadwalkan akan mengikuti lelang spektrum frekuensi baru di pita 700 MHz dan 2,6 GHz pada Selasa (7/7/2026). Lelang ini menjadi momentum krusial bagi para operator untuk memperkuat infrastruktur jaringan mereka.

Kepemilikan spektrum frekuensi ibarat pedang bermata dua bagi perusahaan telekomunikasi. Di satu sisi, spektrum yang luas menjadi "jalan tol" utama untuk mengalirkan data dengan kapasitas besar dan kualitas layanan optimal. Namun di sisi lain, jika pemanfaatan spektrum tersebut tidak diimbangi dengan efisiensi trafik pelanggan, biaya investasi pita frekuensi berisiko menggerus margin laba perusahaan.

Teknologi yang digunakan dalam layanan seluler global saat ini terbagi menjadi dua metode, yakni Time Division Duplexing (TDD) dan Frequency Division Duplexing (FDD). FDD beroperasi layaknya jalan raya dengan dua jalur terpisah untuk pengiriman dan penerimaan data, sehingga memberikan kestabilan tinggi untuk layanan suara. Sebaliknya, TDD bekerja melalui sistem antrean cepat pada satu jalur yang sama, memberikan fleksibilitas lebih besar bagi operator untuk mengatur alokasi trafik data yang tidak simetris.

Menjelang hari lelang, peta penguasaan spektrum masing-masing operator terpantau sangat beragam. Telkomsel hingga saat ini masih memimpin dengan total kepemilikan spektrum mencapai 165 MHz, meski menghadapi tantangan penurunan basis pelanggan sebesar 3,2% secara tahunan pada kuartal pertama 2026, dengan total 153,7 juta pengguna.

Sementara itu, Indosat mengelola 94 juta pelanggan dengan dukungan spektrum sebesar 135 MHz. Di sisi lain, XLSMART, yang kini memiliki 69,4 juta pelanggan setelah melakukan merger, tercatat menguasai spektrum sebesar 152 MHz. Kendati memiliki spektrum yang cukup besar, XLSMART masih memiliki kewajiban untuk mengembalikan pita 2x7,5 MHz pada frekuensi 900 MHz sesuai dengan regulasi yang berlaku.