PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) kian memantapkan langkah strategisnya dalam merambah sektor energi bersih melalui investasi besar-besaran pada infrastruktur *Floating Storage Regasification Unit* (FSRU). Perusahaan menjalin kerja sama dengan Hyundai Heavy Industries asal Korea Selatan untuk membangun unit regasifikasi terapung berkapasitas 170.000 meter kubik dengan nilai investasi mencapai US$319,69 juta atau setara Rp5,75 triliun.

Proyek yang dijalankan melalui perusahaan patungan PT Andalanesa Energi Primer (AEP)—di mana AKRA memegang 49 persen saham—ini ditargetkan beroperasi pada pertengahan tahun 2029. Pembangunan FSRU ini merupakan kepingan krusial dalam ekosistem energi terintegrasi yang dibangun AKRA, khususnya untuk menyokong kebutuhan gas alam cair (LNG) di kawasan Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE), Gresik.

Langkah ini mencerminkan transformasi bisnis AKRA yang selama puluhan tahun dikenal sebagai pemain utama distribusi bahan bakar minyak (BBM) dan bahan kimia dasar. Kini, perseroan berupaya masuk lebih dalam ke rantai pasok LNG yang diproyeksikan menjadi *bridge fuel* atau bahan bakar transisi strategis di tengah upaya dekarbonisasi industri nasional.

Secara operasional, kapal FSRU ini berfungsi layaknya terminal terapung yang dapat menerima, menyimpan, dan menyalurkan gas dengan mobilitas tinggi. Selain menjadi penyuplai utama bagi tenant di kawasan industri JIIPE yang dihuni perusahaan multinasional seperti Freeport Indonesia, fasilitas ini memiliki potensi komersial untuk melakukan perdagangan LNG ke wilayah Jawa Timur maupun daerah lain yang mengalami defisit pasokan gas.

Meski kontribusi segmen utilitas terhadap pendapatan konsolidasi AKRA saat ini masih di bawah 5 persen, manajemen optimistis bahwa diversifikasi ini akan menjadi mesin pertumbuhan baru. Seiring dengan bertambahnya jumlah pabrik di JIIPE serta meningkatnya ketergantungan sektor industri dan pembangkit listrik terhadap LNG, fasilitas ini diprediksi mulai memberikan dampak signifikan pada laporan keuangan perseroan di rentang 2027 hingga 2029 mendatang.

Di balik potensi tersebut, proyek ini tetap menghadapi tantangan kompleks, mulai dari risiko eksekusi pendanaan, fluktuasi harga komoditas global, hingga ketatnya persaingan dengan pemain besar seperti Pertamina dan PLN. Namun, dengan menggandeng mitra global bereputasi tinggi, AKRA tampak percaya diri dalam menghadapi tantangan transisi energi demi menjaga ketahanan pasokan energi nasional.