Indonesia resmi menambah amunisi baru dalam ekosistem olahraga disabilitas dengan meluluskan 72 tenaga klasifikator yang telah tersertifikasi secara nasional. Para tenaga ahli ini dipersiapkan untuk memperluas jangkauan pembinaan atlet di berbagai provinsi, sekaligus menjadi fondasi kuat bagi kontingen Indonesia dalam menatap ajang Paralympic 2028.

Proses sertifikasi dilakukan melalui pelatihan intensif yang terbagi dalam dua gelombang. Wilayah Indonesia bagian barat menuntaskan pelatihan di Solo pada bulan Mei, sementara wilayah timur menyelesaikannya di Makassar awal Juli lalu. Sebanyak 77 peserta dari 28 provinsi turut berpartisipasi, dengan tingkat kelulusan yang mencakup 72 tenaga ahli yang kini siap diterjunkan ke lapangan.

Plt Asisten Deputi Tenaga dan Organisasi Keolahragaan Prestasi Kemenpora, Leny Kurnia, menegaskan bahwa kehadiran para klasifikator baru ini adalah langkah konkret untuk menghapus kesenjangan pembinaan atlet di daerah. Selama ini, minimnya tenaga ahli bersertifikat menjadi kendala utama dalam memetakan potensi atlet disabilitas di pelosok tanah air.

Chief Classifier NPC Indonesia, Dr. dr. Retno Setianing, Sp.KFR (K), menambahkan bahwa peran klasifikator sangat krusial karena merupakan prasyarat mutlak sebelum seorang atlet berkompetisi. Klasifikasi yang akurat menjamin keadilan dalam pertandingan serta membantu daerah dalam mengidentifikasi bakat atlet sesuai dengan kategori disabilitas yang tepat, sehingga proses pelatihan menjadi lebih terukur.

Di sisi lain, para peserta pelatihan menyambut positif inisiatif ini. Perwakilan klasifikator asal Bali, dr. Made Dwi Puja Setiawan, menilai bahwa ketersediaan tenaga ahli di daerah akan membuka akses yang lebih luas bagi penyandang disabilitas untuk berkiprah di dunia olahraga prestasi. Ia berharap ke depannya terdapat pelatihan lebih spesifik berbasis cabang olahraga untuk meningkatkan standar kompetensi klasifikator agar sejajar dengan regulasi internasional.