Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI bersama National Paralympic Committee (NPC) Indonesia sukses mencetak 72 tenaga klasifikasi olahraga disabilitas fisik yang baru. Para tenaga ahli ini merupakan lulusan dari rangkaian pelatihan intensif yang diselenggarakan di dua wilayah, yakni Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan, guna memperkuat ekosistem olahraga paralimpiade di Tanah Air.

Pelatihan ini diikuti oleh 77 peserta dari 28 provinsi yang terbagi dalam dua gelombang. Wilayah Indonesia bagian barat menuntaskan pelatihan di Solo pada Mei lalu dengan tingkat kelulusan 100 persen, sementara wilayah timur melaksanakan kegiatan di Makassar pada akhir Juni hingga awal Juli 2026, yang melahirkan 27 klasifier bersertifikat dari total 32 peserta.

Plt Asisten Deputi Tenaga dan Organisasi Keolahragaan Prestasi Kemenpora, Leny Kurnia, menegaskan bahwa kehadiran tenaga klasifikasi di berbagai daerah sangat krusial. Hal ini bertujuan agar proses identifikasi potensi atlet penyandang disabilitas tidak lagi terpusat di kota-kota besar, melainkan tersebar merata di seluruh provinsi untuk menjangkau bibit atlet potensial.

Senada dengan hal tersebut, Chief Classifier NPC Indonesia, Dr. dr. Retno Setianing, Sp.KFR (K), menyoroti bahwa klasifikasi adalah fondasi mutlak dalam kompetisi yang setara dan adil. Menurutnya, tenaga klasifier lokal akan memudahkan proses pemetaan sport class sejak dini, sehingga pembinaan atlet di daerah dapat berjalan lebih efektif dan akurat saat menuju persiapan kompetisi internasional seperti Paralympic 2028.

Salah satu peserta asal Bali, dr. Made Dwi Puja Setiawan, menyambut positif inisiatif ini. Ia berharap program sertifikasi ini menjadi langkah awal dari pelatihan berkelanjutan yang mencakup spesialisasi cabang olahraga, sehingga para klasifier tetap relevan dengan standar perkembangan ilmu olahraga disabilitas di tingkat internasional.