Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan catatan penting bagi dunia usaha dalam ajang Bisnis Indonesia Awards 2026. Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menekankan bahwa di tengah lanskap ekonomi global yang penuh ketidakpastian, parameter keberhasilan sebuah perusahaan tidak lagi sekadar diukur dari besarnya ekspansi bisnis atau perolehan laba jangka pendek.

Friderica menyatakan bahwa perusahaan kini dituntut untuk menempatkan tata kelola yang baik (Good Corporate Governance), manajemen risiko yang matang, serta integritas sebagai fondasi utama. Menurutnya, pertumbuhan yang sehat harus sejalan dengan prinsip keberlanjutan agar mampu bertahan menghadapi tantangan nyata seperti perubahan iklim, fragmentasi ekonomi global, dan percepatan transformasi digital.

Isu perubahan iklim menjadi sorotan utama dalam pandangan OJK. Friderica menekankan bahwa risiko lingkungan bukan lagi ancaman masa depan yang bersifat futuristik, melainkan realitas yang tengah berdampak langsung pada operasional bisnis saat ini. Oleh karena itu, perusahaan didorong untuk lebih transparan dalam pengungkapan keberlanjutan serta memperkuat strategi transisi menuju ekonomi hijau guna menarik minat investor global yang kini semakin selektif terhadap penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).

Di tingkat domestik, OJK menyoroti ketahanan ekonomi Indonesia yang relatif kuat dengan pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,6 persen. Sektor jasa keuangan juga menunjukkan tren positif, di mana kredit perbankan mencatatkan pertumbuhan 11,51 persen dengan rasio permodalan yang solid. Selain itu, sektor pembiayaan digital seperti layanan 'buy now pay later' (BNPL) dan pinjaman daring mengalami lonjakan signifikan, yang mengindikasikan tingginya kebutuhan masyarakat akan akses keuangan inovatif.

Meskipun demikian, OJK mengingatkan agar pelaku usaha tetap mewaspadai berbagai risiko domestik, mulai dari kontraksi di sektor manufaktur hingga dinamika surplus perdagangan. Friderica menegaskan bahwa reformasi di sektor jasa keuangan dan pasar modal harus terus diperkuat melalui kolaborasi antara regulator, pelaku industri, dan masyarakat. Baginya, integritas tetap menjadi mata uang yang paling berharga bagi dunia usaha untuk memastikan sektor keuangan dapat terus berkontribusi pada kesejahteraan ekonomi nasional yang inklusif dan resilien.