Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Digital, Ismail, menegaskan urgensi bagi negara-negara anggota ASEAN untuk memelihara ekosistem digital yang terbuka, aman, dan inklusif. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan 2026 ADGSOM-ATRC Joint Working Group di Jakarta Pusat, merespons dinamika persaingan teknologi global yang semakin menantang.
Ismail menyoroti bahwa lanskap geopolitik saat ini telah menciptakan berbagai hambatan baru, mulai dari isu kedaulatan digital hingga ancaman keamanan siber yang kian nyata. Di tengah rantai pasok teknologi yang terus berkembang, solidaritas antarnegara ASEAN dianggap sebagai benteng utama untuk menghadapi ketidakpastian dunia digital.
Sebagai langkah strategis, Ismail menekankan perlunya memperkuat kerja sama dengan mitra kawasan guna memastikan transformasi digital memberikan dampak positif bagi stabilitas ekonomi dan inovasi. Kolaborasi ini diharapkan dapat menjadi katalisator pembangunan berkelanjutan yang melindungi kepentingan kolektif seluruh anggota ASEAN di tengah dunia yang saling terhubung.
Lebih lanjut, implementasi tahun pertama ASEAN Digital Master Plan 2030 (ADM 2030) disebut menjadi tonggak krusial dalam lima tahun ke depan. Dokumen strategis ini diproyeksikan sebagai pedoman adaptasi ASEAN dalam merespons kemajuan teknologi mutakhir secara efektif, sekaligus menjaga kawasan tetap relevan di tengah perubahan lanskap digital yang sangat cepat.