Tim nasional Spanyol sukses memastikan tiket ke perempat final Piala Dunia 2026 setelah menumbangkan Austria dengan skor meyakinkan 3-0. Dalam laga yang berlangsung dominan bagi La Furia Roja tersebut, Mikel Oyarzabal tampil sebagai aktor utama dengan mencatatkan dua gol ke gawang lawan.

Namun, euforia kemenangan Spanyol justru diwarnai oleh gelombang protes dari warganet setelah FIFA mengumumkan Lamine Yamal sebagai Superior Player of the Match. Keputusan ini dinilai tidak relevan oleh sebagian besar penggemar sepak bola yang merasa performa Oyarzabal jauh lebih krusial dibandingkan aksi Yamal di lapangan.

Secara statistik, kontribusi Oyarzabal memang sangat mencolok dengan raihan dua gol, sementara Marc Cucurella juga tampil impresif melalui dua assist yang krusial. Berdasarkan data rating pemain, Oyarzabal mencatatkan angka 9,1, jauh melampaui Yamal yang hanya memperoleh skor 7,7. Kesenjangan data inilah yang memicu kemarahan publik di berbagai platform media sosial.

Di sisi lain, pendukung setia Yamal mencoba memberikan pembelaan. Meski tidak mencetak gol atau memberikan assist, pemain muda Barcelona berusia 19 tahun tersebut dianggap memberikan dampak signifikan melalui pergerakan dinamis dan kemampuannya membongkar pertahanan lawan dari sisi kanan. Popularitas sang pemain ditengarai menjadi faktor penentu dalam sistem voting penggemar yang digunakan FIFA.

Terlepas dari kontroversi gelar individu, performa Mikel Oyarzabal tetap menjadi kisah inspiratif dalam gelaran Piala Dunia kali ini. Penyerang berusia 29 tahun yang sempat terpuruk akibat cedera ACL tersebut kini bangkit menjadi mesin gol utama bagi Spanyol dengan catatan empat gol dari empat pertandingan, sekaligus membuktikan ketajamannya di fase krusial turnamen.