Prestasi membanggakan baru saja ditorehkan oleh dua atlet cilik Indonesia, Adena Thariza Ardhani dan Inara Thariza Sarasvati, yang sukses menyabet gelar juara dalam ajang The 2026 Ice Skating Institute Asia World Ice Arena Beijing Figure Skating Championship. Keberhasilan ini sontak menuai apresiasi luas dari publik tanah air, yang melihatnya sebagai simbol perjuangan luar biasa dari atlet di negara tropis.

Namun, di balik gemerlap medali tersebut, tersimpan realitas pahit terkait minimnya infrastruktur olahraga musim dingin di Indonesia. Berbeda dengan atlet cabang olahraga lain yang memiliki fasilitas pemusatan latihan nasional (pelatnas), para atlet figure skating tanah air justru terpaksa mengasah kemampuan mereka di arena seluncur es komersial yang terletak di dalam pusat perbelanjaan.

Kondisi ini menciptakan tantangan yang tidak mudah. Para atlet harus berlatih di tengah hiruk-pikuk pengunjung umum, berhadapan dengan distraksi suara, hingga keterbatasan waktu latihan yang mengikuti jam operasional mal. Hal ini menciptakan risiko keamanan yang tinggi serta kendala teknis bagi mereka yang membutuhkan presisi tinggi dalam setiap gerakan.

Selain masalah fasilitas, beban finansial menjadi tantangan utama yang harus ditanggung secara mandiri oleh keluarga atlet. Mulai dari biaya pelatih profesional, peralatan standar kompetisi, hingga biaya akomodasi luar negeri, seluruhnya bersumber dari kantong pribadi. Fenomena ini menunjukkan bahwa prestasi yang diraih sejauh ini merupakan buah dari investasi orang tua, bukan hasil pembinaan sistematis dari negara.

Pakar dan pengamat olahraga menilai bahwa paradigma pemerintah dalam memandang figure skating perlu segera dirombak jika Indonesia ingin bersaing di level Olimpiade Musim Dingin. Diperlukan langkah konkret seperti pemberian insentif bagi pengelola arena es atau pembangunan fasilitas olahraga musim dingin milik negara yang berstandar internasional.

Kini, publik menanti langkah nyata pemerintah agar talenta-talenta emas tidak layu sebelum berkembang. Pertanyaan besar yang tersisa adalah, sampai kapan beban pembinaan atlet berbakat ini harus terus dipikul oleh keringat dan kemampuan finansial keluarga masing-masing?