Para nelayan di Desa Aluh-Aluh Besar, Kabupaten Banjar, kini memiliki harapan baru untuk meningkatkan taraf hidup melalui penerapan teknologi budidaya kepiting bakau yang lebih efisien. Melalui program Crab Box Apartments yang mengadopsi sistem Recirculating Aquaculture System (RAS), nelayan tidak lagi harus menempuh jarak 25 hingga 30 kilometer ke perairan Tabunganen hanya untuk berburu tangkapan.

Program yang digagas oleh Tim Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Achmad Yani Banjarmasin ini hadir sebagai solusi atas kian terbatasnya habitat mangrove di wilayah setempat. Sistem 'apartemen' tersebut dirancang dengan konsep satu wadah untuk satu ekor kepiting, sebuah metode yang terbukti efektif menekan risiko kanibalisme sekaligus menjaga kualitas air tetap optimal bagi pertumbuhan komoditas perikanan ini.

Ketua Pelaksana PKM, Dr. Rina Iskandar, menjelaskan bahwa inovasi ini dirancang agar proses penggemukan kepiting berlangsung lebih singkat, yakni hanya dalam kurun waktu dua hingga tiga pekan. Selain aspek teknis budidaya, tim juga memberikan pendampingan intensif mengenai pengelolaan keuangan dan tata kelola organisasi berbasis syariah kepada Kelompok Usaha Bersama (KUB) Ladung Jaya Setia agar usaha mereka lebih mandiri dan kompetitif.

Dukungan nyata turut diberikan oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Banjar yang menilai kolaborasi ini sebagai model pemberdayaan masyarakat pesisir yang menjanjikan. Dengan dukungan pakan berbahan baku lokal serta manajemen usaha yang terukur, KUB Ladung Jaya Setia diproyeksikan menjadi percontohan budidaya perikanan modern yang mampu meningkatkan kesejahteraan ekonomi warga desa secara berkelanjutan.