Evolusi teknologi kecerdasan buatan (AI) telah mengubah lanskap ancaman di ekosistem aset digital secara signifikan. Alih-alih membobol sistem keamanan yang terenkripsi ketat, pelaku kejahatan siber kini cenderung melakukan manipulasi psikologis untuk mengelabui pengguna demi mendapatkan akses ke aset mereka.

Dalam diskusi bertajuk "Beyond Code: The Human Side of Crypto Security", para pakar menyoroti bahwa banyak pemilik aset kripto masih keliru dengan menganggap ancaman utama berasal dari peretasan platform pertukaran. Faktanya, sebagian besar kasus kebocoran akses terjadi akibat kelalaian pengguna yang terpancing oleh tautan berbahaya atau rekayasa sosial yang menyerupai layanan resmi.

CISO INDODAX, Ledy, menegaskan bahwa perkembangan teknologi seperti deepfake dan voice cloning berbasis AI kini menjadi senjata utama peretas. Data dari NordStellar mencatat lonjakan tajam sebesar 39 persen dalam pembahasan layanan Deepfake-as-a-Service di forum gelap selama awal tahun 2026, yang mengindikasikan semakin mudahnya akses terhadap teknologi manipulasi digital tersebut.

Modus penipuan kini semakin canggih, mulai dari iklan media sosial palsu hingga penyamaran sebagai layanan pelanggan melalui aplikasi pesan instan. INDODAX menekankan bahwa mereka tidak memiliki layanan dukungan pelanggan resmi melalui WhatsApp, dan mengimbau pengguna untuk hanya menggunakan kanal komunikasi resmi yang telah diverifikasi untuk menghindari penipuan.

Sebagai langkah preventif, peningkatan cyber hygiene atau kebersihan digital menjadi krusial. Kebiasaan untuk selalu memverifikasi informasi secara mandiri, menjaga kerahasiaan data pribadi, serta tidak gegabah dalam mengambil keputusan investasi merupakan benteng pertahanan terakhir bagi setiap investor aset kripto di tengah gempuran ancaman berbasis AI.