Sebuah insiden teknis yang dramatis mewarnai laga babak 32 besar Piala Dunia antara Portugal dan Kroasia di Toronto. Gol penyama kedudukan Kroasia di masa tambahan waktu secara mengejutkan dibatalkan oleh wasit Espen Eskås setelah sistem connected ball technology mendeteksi sentuhan tipis yang tidak terlihat oleh mata manusia maupun tayangan ulang video standar.
Keputusan tersebut menjadi sorotan tajam karena memenangkan Portugal dengan skor 2-1 dan memastikan langkah mereka ke babak 16 besar. FIFA menegaskan bahwa keputusan tersebut akurat 100 persen. Sensor Inertial Measurement Unit (IMU) yang tertanam di dalam bola resmi "Trionda" berhasil menangkap gesekan rambut pemain Kroasia, Igor Mantanovic, yang membuat rekannya, Mario Pasalic, berada dalam posisi offside saat gol tercipta.
Teknologi bola pintar ini bekerja dengan frekuensi 500Hz, artinya sensor mampu mengirimkan data posisi dan pergerakan bola sebanyak 500 kali per detik. Data sensorik ini disinkronisasikan dengan kamera pelacak di stadion dan divisualisasikan melalui grafik detak jantung (heartbeat graphic) di ruang VAR, memberikan bukti absolut mengenai kontak fisik yang terjadi di lapangan.
Meskipun FIFA berargumen bahwa inovasi ini krusial untuk menghilangkan human error dalam pengambilan keputusan krusial, kehadiran teknologi ini menuai kritik pedas. Pelatih Kroasia, Zlatko Dalić, menyatakan bahwa intervensi teknologi yang terlalu rigid perlahan-lahan meredupkan gairah dan keindahan natural dari permainan sepak bola.
Penerapan sistem ini merupakan bagian dari peta jalan digitalisasi total yang diusung otoritas sepak bola dunia. Namun, di balik akurasi teknis yang nyaris sempurna, perdebatan filosofis terus bergulir di kalangan pemain dan penggemar mengenai apakah efisiensi sains harus mengorbankan drama serta emosi yang selama ini menjadi jati diri olahraga tersebut.