Kecerdasan Buatan (AI) dan Big Data kini bukan lagi sekadar alat pendukung, melainkan harus diposisikan sebagai infrastruktur fundamental dalam perekonomian nasional. Pandangan strategis ini disampaikan oleh Profesor Madya Dr. Luu Anh Tuan, Wakil Direktur Jenderal Model dan Platform AI VinSmart Future Company, dalam Konferensi Nasional terkait implementasi Resolusi No. 57-NQ/TW mengenai terobosan inovasi dan transformasi digital.
Dr. Luu menegaskan bahwa di era modern, data berperan sebagai bahan baku strategis, sementara AI berfungsi sebagai mesin penggerak yang mengubah data tersebut menjadi pengetahuan, produktivitas, serta nilai komersial. Ia berargumen bahwa penguasaan atas infrastruktur komputasi, model AI, dan data menjadi penentu utama daya saing sebuah negara dalam rantai nilai teknologi global.
Vingroup, sebagai salah satu pelaku industri, telah menunjukkan komitmen nyata melalui pengembangan ekosistem AI yang masif, termasuk pengolahan lebih dari 350 miliar token bahasa Vietnam. Menurut Dr. Luu, kesuksesan implementasi ini membuktikan bahwa dengan tujuan besar dan organisasi yang tepat, inovasi teknologi kompleks dapat dikuasai oleh talenta lokal secara mandiri.
Untuk mengintegrasikan AI dan Big Data secara efektif, Dr. Luu mengusulkan enam langkah strategis, yaitu pembentukan infrastruktur data nasional, pengembangan platform AI 'Buatan Vietnam', penyediaan infrastruktur komputasi bersama, reformasi kelembagaan melalui 'Sandbox AI', pengembangan talenta AI, serta dorongan komersialisasi produk ke pasar internasional.
Inisiatif ini diharapkan mampu memicu pertumbuhan berkelanjutan sekaligus menempatkan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai poros utama perekonomian. Dengan dukungan pemerintah sebagai 'pelanggan pertama' produk inovasi dalam negeri, Vietnam diyakini mampu mencapai target menjadi negara maju dengan penghasilan tinggi pada tahun 2045.