Kementerian Koperasi kini mengambil langkah strategis dengan mendorong koperasi untuk naik kelas dari pengelola kebun menjadi pemain utama dalam industri hilirisasi sawit. Inisiatif ini diwujudkan melalui kemitraan strategis dengan PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) untuk membangun ekosistem bisnis yang lebih mandiri, termasuk rencana pembangunan pabrik pengolahan Crude Palm Oil (CPO) milik koperasi.
Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan tindak lanjut atas arahan Presiden Prabowo Subianto. Tujuannya adalah memperkuat posisi tawar petani sawit baik di sektor hulu maupun hilir. Model kemitraan ini menempatkan perusahaan sebagai inti, sementara koperasi berperan sebagai plasma dengan hak pengelolaan minimal 20 persen lahan produktif.
Ferry menyatakan bahwa keterlibatan koperasi dalam industri pengolahan merupakan langkah krusial untuk menciptakan tata niaga sawit yang lebih berkeadilan. Ke depan, koperasi tidak hanya akan menghasilkan CPO, tetapi juga produk turunan seperti minyak goreng yang dapat didistribusikan langsung ke koperasi desa sebagai wujud nyata kedaulatan ekonomi masyarakat.
Sebagai realisasi, sebuah pabrik CPO milik koperasi di Musi Banyuasin dijadwalkan akan diresmikan dalam waktu dekat. Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara, Muhammad Abdul Ghani, menambahkan bahwa pihaknya telah menyiapkan pengelolaan lahan seluas 850 ribu hektare yang akan terus dikembangkan, dengan alokasi khusus bagi 250 koperasi mitra.
Selain fokus pada komoditas kelapa sawit, kolaborasi ini juga merambah ke sektor pertanian strategis lainnya. PT Agrinas berencana mengembangkan komoditas kedelai, jagung, serta singkong untuk bahan baku etanol guna mendukung target swasembada pangan dan energi nasional. Proyek percontohan ini akan segera dimulai di Sumatra Utara dengan melibatkan koperasi setempat.