Dalam lanskap ekonomi modern, inovasi bukan sekadar perubahan, melainkan upaya menciptakan nilai tambah melalui teknologi mutakhir dan efisiensi yang lebih tinggi. Letnan Jenderal Tao Duc Thang, Ketua Viettel, menegaskan bahwa perusahaan yang ingin unggul di pasar global harus berani menempuh jalan berbeda daripada sekadar mengikuti jejak pendahulunya. Baginya, strategi pertumbuhan yang hanya mengandalkan inersia masa lalu tidak lagi relevan bagi keberlangsungan jangka panjang.
Salah satu hambatan utama bagi ekosistem inovasi di Vietnam adalah ketakutan kolektif terhadap kesalahan. Menanggapi hal tersebut, Thang menyatakan bahwa alih-alih menghindari risiko, perusahaan harus membangun sistem manajemen risiko yang terukur. Di Viettel, setiap ide inovatif diuji dalam skala kecil di wilayah atau kelompok pelanggan tertentu untuk menilai dampaknya secara riil. Jika terbukti efektif, proyek tersebut akan diperluas; namun, jika ditemukan kendala, proyek akan segera dihentikan atau disesuaikan.
Lebih lanjut, Thang menyoroti perlunya perubahan paradigma dalam kebijakan pemerintah. Selama ini, dukungan seringkali hanya terfokus pada pendanaan riset di sisi input. Ia berpendapat bahwa pemerintah seharusnya lebih berperan dalam menciptakan pasar bagi produk dalam negeri melalui regulasi teknis atau mekanisme pendorong permintaan. Dengan adanya kepastian pasar, bisnis akan lebih termotivasi untuk menginvestasikan modal sendiri dalam pengembangan teknologi.
Terkait hambatan administratif, ia juga mengkritik persyaratan tender yang terlalu ketat, seperti keharusan memiliki rekam jejak bertahun-tahun, yang justru mematikan potensi perusahaan teknologi lokal. Menurutnya, mekanisme preferensi yang lebih substantif dan evaluasi yang berorientasi pada hasil nyata—bukan sekadar formalitas proses—adalah kunci utama dalam menciptakan lingkungan bisnis yang kondusif bagi riset dan komersialisasi teknologi strategis.